Kesiswaan SMA Islam Kepanjen, mengucapkan " SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1431 H " - Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Amien.

Paijo Jadi Wartawan

Kamis, 29 September 2011



Kepada teman-temannya, ia selalu mengaku namanya Joe. Tentu ini berkaitan dengan sikapnya yang narsis, ingin membanggakan diri sendiri seperti anak muda sekarang yang gemar ber-facebook, lalu membanggakan status dan foto-foto di wall-nya. Joe adalah nama dari Paijo. Paijo adalah sarjana pengangguran yang setahun luntang-lantung di rumah pamannya di Jakarta. Kendati kerap memperkenalkan diri bernama Joe, rekan-rekannya lebih suka memanggil Paijo. Alasannya jelas, nama Joe terlalu ganteng untuk potongannya yang ndeso.

Novel Jurnalis Narsis ini bener-bener kocak, menceritakan Paijo dan kisahnya sebagai jurnalis muda dengan sangat lucu, unik, dan menarik. Doni Indra berhasil mengocok perut pembaca dengan bacaan yang segar, ringan, namun cukup berbobot, karena di dalamnya juga ada pembahasan dan wawasan tentang bisnis dan pasar modal yang sebenarnya rumit, namun dibuat mudah oleh penulisnya

Laskar Pemimpi

Sutradara : Monty Tiwa
Penulis : Monty & Eric Tiwa
Produksi : Starvision Plus
Genre : Komedi - Perang - Musikal

Setelah Agresi Belanda ke 2 di bulan Desember 1948, banyak pemuda yang ingin membantu perjuangan bersenjata berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk dilatih bertempur. Di antara mereka terdapat Gugum, Oon, Tika, Udjo, Odi dan Yosi (Project Pop)

Pada tahap seleksi keenam pemuda dari latar belakang yang berbeda ini menjadi menonjol karena ketidak kompetenan mereka.
Hanya kesungguhan dan ketulusan niat untuk berjuang saja yang membuat komandan perekrutan, Kapten Hadi tidak sampai hati menolak mereka. Walau mendapat protes keras dari Letnan Bowo (Gading Marten) wakilnya, sang kapten membentuk suatu unit non tempur untuk menampung keenam pemuda tersebut.

Tujuan utama pembentukan unit yang diberi nama Laksar Pemimpi ini adalah untuk menghibur pasukan. Karena itu mereka pun mendapat latihan yang berbeda dari para kader lain. Sebagai pelatihnya Kapten Hadi menunjuk Kopral Jono (Dwi Sasono). Ternyata si kopral bengal tidak terima disuruh memimpin unit Laskar Pemimpi dan melampiaskan kekecewaannya pada anak buahnya itu. Sejak hari pertama ia selalu menekan anggota unit Laskar Pemimpi dengan latihan-latihan yang berat. Situasi ini ternyata malah menumbuhkan kedekatan di antara anggota unit Laskar Pemimpi.

Kesempatan itu datang saat unit Laskar Pemimpi diberi peran kecil dalam sebuah penyergapan. Rencana penyergapan gagal total karena ulah unit Laskar Pemimpi. Untunglah Kopral Jono sendiri berhasil selamat dari kejaran Belanda berkat bantuan anak buahnya.

Sementara itu, Kapten Hadi menerima seorang utusan dari Yogyakarta datang menghadap membawa surat penting dari komandan Brigade X yang

mengabarkan tanggal penyerbuan besar-besaran ke Yogyakarta.

Mereka bersiap untuk menjalankan tugas mencegat pasukan Belanda yang datang dari arah Semarang. Apa boleh buat, karena peristiwa Kedu, Unit Bagong menjadi tertinggal dalam tugas, tetapi akhirnya mereka sepakat untuk berangkat menyusul pasukan Kapten Hadi yang bertugas menghambat laju pasukan bantuan Belanda ke Yogyakarta.

Ternyata, pasukan Kapten Hadi terhambat dalam perjalanannya ke posisi yang ditentukan. Hambatan itu bisa membuat pasukan bantuan Belanda dari Semarang bisa dengan mudah mencapai Yogyakarta sebelum serangan umum, Sementara itu unit Bagong yang bergerak di belakang mereka berhasil menyusul. Maka, demi keberhasilan misi yang diemban Kapten Hadi tidak punya pilihan lain selain minta Kopral Jono dan anak buahnya masuk ke Semarang demi menghambat laju pasukan pendukung Belanda.

Kesempatan untuk membuktikan diri pun, akhirnya datang bagi unit Laskar Pemimpi dan Kopral Jono

Novel Mencari Wajah Ibu

Seorang anak pasti selalu merindukan ibunya. Di mana pun ia berada, ia pasti akan teringat kepada wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Itulah yang juga dirasakan oleh Tono dalam cerpen berjudul ‘’Mencari Wajah Ibu’’ yang ditulis oleh Angel Li. Angel Li merupakan pemenang I lomba menulis cerpen nasional yang diselenggarakan oleh PT Rohto Laboratories Indonesia tahun 2009. Dalam cerpen ini dikisahkan bahwa Tono adalah seorang peminta-minta yang setiap hari telah terbiasa menghirup udara Jakarta yang selalu bercampur debu tebal dan asap knalpot di jalanan. Tubuhnya legam oleh sengatan matahari dengan pakaiannya yang lusuh penuh tambalan. Setiap kali lampu merah, maka ia dan teman-temannya akan segera berlarian memburu kendaraan-kendaraan yang berhenti berharap mereka mau memberikan se-keping uang receh.

Dengan semakin bertambahnya usia, Tono mulai berpikir tentang asal-usulnya. Ia ingin tahu siapa ibu yang telah melahirkannya. Namun setiap kali ia bertanya pada orang-orang terdekatnya, tak ada seorang pun yang tahu siapa ibunya. Mereka hanya tahu kalau Tono dibuang ibunya saat masih bayi, sembilan tahun yang lalu. Hingga Mbah Upik menemukannya dan memeliharanya hingga kini. Tapi Tono tetap ingin mengetahui di mana ibu kandungnya. Setiap hari ia mencari tak kenal lelah dan bertanya pada orang-orang yang ia temui di jalan-jalan. Namun tak seorang pun mengenali ibunya. Tono sedih sekali.

Sampai akhirnya Tono merasa pencariannya itu hanya sia-sia. Dalam suasana hati yang berduka dan diliputi kesedihan mendalam, ia bertemu dengan seorang pelukis bernama Pak Ghali. Tono pun meminta Pak Ghali bersedia melukiskan wajah dirinya dan mau menggantungkan lukisan itu di depan toko. Tono berharap suatu saat ibu kandungnya akan melihat lukisan itu dan mengenali dirinya sebagai anaknya. Namun Pak Ghali memberi saran kepada Tono untuk melukiskan wajah ibunya saja. Tono terheran, melukis wajah ibunya? Bagaimana caranya? Sementara ia dan Pak Ghali tak tahu seperti apa raut wajah ibunya. Kata Pak Ghali wajah ibunya pasti mirip dengan wajahnya. Tono pun setuju. Apalagi setelah lukisan itu selesai, Tono benar-benar takjub memandang lukisan ibunya itu. Wajah lukisan itu benar-benar mirip dengan wajahnya dengan rambut hitam yang disanggul. Dengan memandang lukisan itu, Tono merasa seperti telah menemukan ibunya.
Kemudian ada lagi cerpen berjudul ‘’Patung Ibu’’ yang merupakan pemenang ke-2. Cerpen ini berkisah tentang seorang anak bernama Tania yang takut kehilangan ibunya. Rasa takut itu mulai menghantuinya saat ia bermimpi melihat ibunya bertemu dengan ayahnya yang telah enam tahun menghilang setelah badai menenggelamkan kapal yang ditumpangi ayahnya. Tania selalu bersedih manakala melihat ibunya sering berbicara sendirian seperti orang hilang akal. Sampai akhirnya Tania benar-benar kehilangan ibunya.
Cerpen pemenang ke-3 berjudul ‘’Tiga Perempuan dalam Hitam’’. Cerpen ini berkisah tentang seorang ibu yang tidak peduli terhadap anaknya yang gila akibat ketidaksanggupannya menerima kenyataan bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Sejak itu ia senang sekali dengan warna hitam, hingga seluruh penghuni rumah harus mengenakan pakaian berwarna hitam supaya kematian ayahnya selalu di-kenang oleh semua orang. Kalau keinginannya itu tidak dituruti, ia akan marah dan mengamuk. Namun sayangnya ibunya tetap tak mempedulikannya.

Sungguh cerpen-cerpen dalam antologi dengan sampul warna orange ini sangat memikat dengan tema-tema unik yang jarang diangkat penulis kebanyakan. Bahasanya indah dengan alur cerita yang tidak mudah ditebak dan selalu memberikan kejutan-kejutan tak terduga di ending cerita. Cerpen-cerpen antologi ini sangat istimewa karena merupakan pemenang lomba yang terpilih setelah melewati serangkaian penjurian ekstra ketat dari 6000 naskah yang masuk.

Kord Lagu dam Lirik St.12


St12 - Aku Terjatuh :

Bb               Gm                     Dm
Aku terjatuh, aku terjatuh lagi di pelukanmu
Bb               Gm                     Am
Aku terjatuh, aku terjatuh lagi di pelukanmu
Bb           Am                     Dm
Ku sadar diri tiada lagi rasa cinta
Bb           Am                           Dm
Batin diriku tak ingin engkau terluka

Bb               Gm                     Dm
Aku terjatuh, aku terjatuh lagi di pelukanmu
Bb               Gm                     Am
Aku terjatuh, aku terjatuh lagi di pelukanmu

Dm                   Gm
Sudah ku bilang hapus air mata
C                    F
Cinta ku hilang meninggalkanmu
Bb             Gm
Kamu tlah berbeda tergila gila
G#                 Am
Hidupku terasa terasa hampa